Parodi Politik

Tbmkopel.or.id – Ketika kau kecil, pernahkah kau melihat badut sulap, memperlihatkan kelihaiannya dalam memainkan berbagai trik hingga membuatmu terpukau, lalu kau bersorak merasa terhibur dibuatnya. Dan ketika itu kita tidak sadar bahwa itu hanya sebuah kebohongan. Atau kau tak sepakat jika itu disebut ‘kebohongan’ karena trik berbeda dengan kebohongan. Ah, sudahlah terlalu berbeli-belit. Tapi aku juga tidak mau berkemit begitu saja, coba pikir ulang bukankah kebohongan selalu dilakukan dengan banyak cara, dengan satu tujuan untuk menutupi kebenaran. Tapi memang begitulah seorang badut tanpa trik ia takkan bisa menghibur dan kalau begitu ia akan gagal disebut badut.

Tapi akhir-akhir ini aku sering melihat fenomena yang unik sekaligus menyebalkan. Dimana banyak orang berperilaku mirip badut supaya terlihat lucu, tapi mereka bukan badut. Ada dari mereka kulihat di sebuah acara televisi mengenakan pakaian rapi berjas serta dasi. Demi lari dari tuduhan korupsi yang menjeratnya berbagai kebohongan ia pertontonkan dari mulai sandiwara nabrak tiang listrik hingga mencret ketika persidangan berlangsung.
Kau pasti paham siapa yang kumaksudkan. Aku yakin para politikus, wakil rakyat kita yang terhormat itu mengawali karir politiknya dengan cara yang hampir sama yaitu dengan menebar pesona janji.

Apa membicarakan mereka merupakan sebuah kesalahan ?, menurutku tidak. Kau tahu, di kota kelahiranku, tempat sekarang aku tinggal dan semoga saja mati pun di tempat ini. Sedang berlangsung momen pemilihan wakil rakyat. kemarin pagi saat aku hendak pergi ke sekolah, kutemukan baliho-baliho bergambarkan wajah mereka, ada yang mengenakan peci ada pula yang mengenakan kerudung karena memang calon kandidatnya tidak cuma laki-laki, Ada dua kesamaan dari gambar muka mereka di baliho itu. Pertama mereka semua memasang muka seraya tersenyun dan yang kedua mereka sama-sama ingin menang dalam pemilu.

Terkadang aku heran, ah bukan kadang malah sering. Kala pemilu berlangsung, apa iya mereka benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat, atau malah kepentingan partai, apa kau juga pernah keheranan sepertiku ?. Tapi biarlah itu urusan mereka. Tokh nyatanya sulit di era multipartai seperti sekarang mencari negarawan yang mau benar-benar berjuang demi kepentingan rakyat. Uuh, jangan susah-susah kau cari negarawan, politikus yang benar-benar utuh politikus pun sulit apalagi negarawan.
Dan apa kau yakin mereka benar-benar menang dari hasil pemilu, dari hasil suara kita? Aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka lahir dari kecurangan, sungguh tidak. Tapi aku pernah melihat sebuah film dimana ternyata politikus tidak sepenuhnya lahir dari suara rakyat. Ada bahkan dari mereka sudah menang sebelum pemilu berlangsung. Mungkin kau akan bertanya memangnya film apa itu ? dan apakah ada film macam itu. Entahlah aku juga tidak begitu ingat itu sebuah film atau kenyataan yang kutangkap kemudian aku lupa itu sebuah fim atau dongeng, cerita, atau mungkin aku sedang de-ja-vu.

Hal yang menurutku paling menggelitik ialah ketika pulang sekolah kemarin siang. Sepanjang jalan menuju rumahku dipadati orang-orang tua-muda bahkan anak kecil. Mereka jalan bergerombol seperti kumpulan demonstran menuntut harga sembako, mereka membawa foto calon wakil rakyat lengkap dengan bendera partai dan nomor urut calon. Bukannya itu hal yang lumrah ? apanya yang lucu ? apa dua pertanyaan itu muncul dibenakmu. Lucu sekali, demi sebuah kemenangan politis, mereka (politikus/calon kandidat) mengiring bocah ingusan tanpa pandang buluh.

Jujur saja, menurutku pemuda apalagi anak-anak seharusnya mereka ditempatkan pada wilayah politik strategis bukan malah politik praktis, terlalu dini. Kalau pun harus mereka terlibat dalam politik praktis setidaknya berikan edukasi politik terlebih dahulu, agar massa politik yang lahir bukanlah massa bak bebek yang digiring kesana-kemari tanpa tahu arah, melainkan massa politik yang ideologis. Tapi siapa peduli.
Mungkin kalau pun argumenku itu kusampaikan pada calon kandidat atau bahkan pemimpin partai paling mereka cuma nyinyir. Ah, jelas aku juga harus tahu diri, lagipula siapa aku. Tapi tunggu!, sudah jelas baik ataupun buruk mereka harus mau mendengarkanku, mendengakan kalian juga wahai pembaca. Karena kitalah tuan mereka, kitalah rakyat yang sering mereka koar-kan di berbagai rapat-rapat mereka, suara kitalah yang lebih harus didahulukan sebelum kemauan mereka.

Hah, mereka memang benar-benar payah. Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menghubungi melalui facebook sepertinya ia sedang sumringah karena begitulah ia selalu mengabariku disaat keadaan baik, dan benar saja ia sedang mendapatkan tambahan uang saku. Begitu pesannya padaku. Ketika kutanya siapa yang memberimu tambahan uang saku, ia jawab dari kepala sekolah. Lalu kutanya karena apa kepala sekolah memberi uang dan kenapa aku tidak diberinya juga. Kau tahu apa jawab temanku.
Itu upah karena ia sudah mempromosikan calon kandidat no urut 4 pada tetangga sekitar rumahnya dan kebetulan itu adalah pilihan kepala sekolah. Temanku teramat senang dengan upah politik yang didapatnya.

Dan ketika kutanya kepala sekolah perihal upah politik temanku itu, dengan ekspresi datar kepala sekolah hanya berkata;
“Aku tak peduli mereka menang atau tidak yang penting sumbangan untuk pembangunan sekolah lancar”
“hahaha, bapak amat lucu”
“lho, kamu berani menertawakan guru”
“Bapak juga berani membodohi murid”
“Dasar! Murid tidak terdidik”
“Memangnya siapa pendidiknya ?”
“Arkhh dasar, kau ikut campur saja”
“Bukannya bapak yang mulai nyampur-nyampurin sekolah dengan politik (praktis)”
Setelah itu aku tahu kepala sekolah teramat geram padaku, entahlah bagaimana besok aku menghadapi hari di sekolah, yang aku tahu sekarang bahwa ibu juga ikut marah besar setelah tahu aku dikatakan berkelakuan kurang baik disekolah hingga ia besok harus mengahadap bagian kesiswaan, palingan kepala sekolah hendak mempromosikan calon kandidat no urut 4 seperti yang ia lakukan pada temanku atau kalau pun tidak, ia akan mengeluarkanku dari sekolah.

Sejak saat itu, aku baru tahu ternyata banyak badut yang tampil beda. Tampak berwibawa, tanpa bedak menor di pipi, rambut dan hidung palsu.

Penulis: Majid Zaelan (penulis merupakan pegiat warung kopi) Joglo Kopi, Yogyakarta, 30 Maret 2018.

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: