Sebuah Pertanyaan (?)

Sebuah Pertanyaan
Oleh: Budi Hikmah

Aku baru bangun tidur.
“Aku senang bisa selalu menjadi inspirasi kamu.” katanya, dengan begitu manis. Di balik keseriusannya berbicara, aku masih melihat manja dari lesung pipit di pipinya. Ayu benar perangainya. Menatap senyumnya, memerhatikan tahi lalat di dekat bibir meronanya, bagiku lebih indah daripada taman yang berbunga-bunga ini. Rasa sayangku kepadanya jadi semakin tebal, berbeda dengan rambutnya yang tipis-pendek, yang begitu eksotis itu. Kenni, tak salah, kau memang adalah inspirasiku, semangat hidupku.

Berjumpa dengannya merupakan kedamaian yang hakiki. Dapat berpasangan dengannya benar-benar menjadi sebuah anugerah terindah. Menggenggam lembut tangannya, meluluhkan segala luka yang ada. Betapa takjubnya aku dekat tuk mendekap wanita yang berkulit halus, yang putih berkilau. Kenni, tinggi semampai. Beruntung aku sedang duduk dekat di sampingnya hingga aku tak mesti jinjit-meninggikan tubuh untuk dapat mengecup keningnya. Kupeluk ia erat, begitu hangat.
Sayang, sungguh-sungguh klasik. Saat aku hendak mengecupnya, saat itu aku terhempas dari mimpiku. Aku terbangun dari tidur. Ah, mimpi! Gadis idamanku semasa puber tatkala aku berseragam putih-biru dulu, ternyata masalah hatiku belum benar-benar tuntas dengannya. Aku masih kerap dikelabui mimpi bersamanya. Wanita terindah, lagi teraneh. Sebab katanya dia itu suka padaku, tapi kok sungkan untuk mau jadi pasanganku. Sungguh berat jika teringat tentang dia.

Aku baru saja bangun tidur, aku harus segera menghempaskan bayang-bayang kenangan itu. Aku hendak segera melampiaskannya kepada makanan. Sarapan pagi, kuhabisi kau!
Hendak beranjak dari tempat tidur, boro-boro aku bisa menghempaskan kegelisahanku. Boro-boro aku bisa melarikan diri, kali ini untuk dapat berdiri pun aku tak mampu. Kecelakaan motor seminggu lalu, meretakkan tulang betisku. Sejak saat itu, aku belum bisa berjalan. Dan sebagai buruh pabrik asing, aku sampai tak masuk kerja, dengan catatan aku harus beristirahat total supaya lekas sembuh, supaya sesegera mungkin dapat dipekerjakan lagi. Dari kisah kesakitan sebab kecelakaan itu, aku tersadar, ternyata masih mending sakit hati daripada sakit kaki. Bahkan harus dicamkan pula bahwa sakit tak berdarah itu bukanlah sakit hati, tetapi sakit kaki. Ya, meski tak berdarah, tapi betapa sakitnya dipijat oleh tukang urut tradisional itu. Ya, budaya di sini jika berkenaan persoalan tulang, solusi pengobatannya itu dibawa ke tukang urut, bukan ke dokter di rumah sakit. Dengan alasan efektivitas.

Ah, pagi yang merana. Dihantam kisah masa lalu, dicederai pula oleh masa kini. Sarapan pagi, beruntung kau, aku masih tertahan untuk dapat menghabisimu.

“Dam!”
Tiba-tiba aku mendengar Mama menyeruku, diiringi langkah kakinya menuju ke kamarku.
“Adam, ini sarapan dulu. Ada Ugi ngasih bubur ayam buat kamu. Tapi dia langsung berangkat lagi, mau langsung ngajar, katanya.” tutur Mama, menyajikan bubur ayam yang nampaknya spesial teruntukku.
Celaka, Mama hanya menyampaikan itu saja, lalu kembali melanjutkan agendanya sebagai ibu rumah tangga. Mama membiarkanku menikmati bubur ayam, sekaligus menikmati sebuah pertanyaan, “Apa maksudnya perhatian Ugi ini?”
Ugi itu teman sekelasku semasa SMA. Dia perempuan, dia sudah menjadi seorang guru setelah menjadi sarjana lulusan perguruan tinggi yang ada di luar kota Purwakarta. Perhatiannya yang tiba-tiba ini benar-benar mengkhawatirkan. Aku takut hatiku jadi kecelakaan. Ugi itu sudah punya calon suami seorang TNI angkatan laut. Lah aku, buruh pabrik tekstil yang hanya biasa mengangkat-angkat benang. Celakalah kalau aku sampai terbawa perasaan atas perhatiannya ini. Ugi, sudahlah, kamu cukup jadi malaikat buatku di pagi ini sahaja ya. Sekarang, bubur ayamnya sudah kuhabisi, perhatian kamu jangan diteruskan kalau nantinya hanya akan menjadi kenangan.

***

Sebulan kemudian . . .
Aku bisa kembali hidup normal. Aku bisa berjalan, bisa makan enak, tidur nyenyak, sampai bisa pulang pergi lagi untuk bekerja. Meski kalau kata Buya Hamka; jika hidup hanya seperti itu, hewan juga bisa.
Sebagai orang desa, aku punya keluhan tersendiri daripada rekan kerja yang lain. Jarak. Di antara semua karyawan, tempat tinggalku adalah yang paling jauh jaraknya ke tempat kerja. Lalu ada juga satu sudut pandang yang menarik, rekan-rekan kerjaku menganggap aku itu nyantri gara-gara aku orang desa. Yang memang di pedesaanku banyak berdiri pesantren-pesantren. Padahal aku tak pernah mesantren. Tapi Meski tak masuk pesantren semoga bukan berarti aku tak berhak menjadi orang saleh. Dari itu aku mengamini anggapan rekan-rekanku. Sebab, apa-apa yang terucap, itu akan tercipta, akan menuntut untuk diwujudkan; maka semogalah aku dapat berwujud menjadi orang saleh.
Di hari senin, kata Santika temanku, kita harus menyambut hari dengan semangat meningkat. Ya, aku setuju. Semangatku sangat ditingkatkan hari ini. Sarapan juga sampai habis dua piring.

“Dam! Ayo berangkat kerja! Ini udah siang.” seru Mamaku.
“Iya Ma, siap!” sahutku. Lalu aku berargumentasi dengan lirih, sambil bergegas meninggalkan meja makan. “Utamakan dulu sarapan Ma, kita ini bangsa merdeka.” aku tergelak dalam hati.
Di tempat kerja. Aku punya sahabat bernama Teguh. Ya, kita bersahabat sebab kita mempunyai satu visi yang sama. Dan sekarang, sebelum masuk kerja, aku sedang ngopi sama Beliau. Juga sama Jan dan Habil. Mereka juga adalah rekan kerjaku. Rekan kerja ya, bukan sahabat.

Bagi kami, ngopi itu bukan sekadar minum kopi. Tetapi juga momen dimana kita bisa ngobrol pintar di sana. Pagi ini, Jan yang merasa punya cerita pintar, lantas bercerita untuk jadi bahan obrolan kami di Kantin Liberal ini. Hush! Jangan “anu” dulu. Liberal itu memang nama kantin di tempat kerjaku.
“Aduuuh, tiga hari kemarin benar-benar gila! Malam kerja lembur di pabrik, siangnya kerja lagi di rumah.” ungkap Jan.
“Wah, panen, panen?!” sahutku.
“Iya Dam. Maklumlah petani. Untung Saya punya doping!” jawabnya.
“Apa tuh?” tanya Habil.

Jan mengendap, Ia membisik dengan mimik yang dibuat-buat, “Sabu-sabu, Man!”
Kami terperangah mendengar jawabannya itu.

“Santai, Bro! Saya udah biasa. Saya udah punya takaran dosisnya. Dan Saya cuman pake di momen-momen gila aja kok, kayak kemarin.”

Jelas kami semua kaget dan bertanya. Tapi kepintaran Jan seolah memberikan pengertian yang rasional. Bahkan jadi terkesan begitu bijak. Katanya, mengkonsumsi narkotika itu tak jadi masalah selama mempunyai takaran dosisnya. Jan pun mengaku efeknya gak bikin kecanduan. Dia menganggap benda terlarang itu seperti benda penambah stamina pada umumnya saja.

Kami semua mengangguk-angguk saja, menyeruput kopi kembali, santai dan liberal.
Bahkan Habil tergelak, Ia pun berseloroh. “Kalau Saya suka seks supaya bisa fresh.”
“Memangnya kamu punya istri?” Teguh spontan bertanya. “Ya, di Kampung Kelalawar juga banyak kan tempat pijat tambah-tambah.” jawab Habil.
“Pijat plus plus.”
“Hahaha! Nah, itu tahu!” seloroh Habil kala Teguh tadi menimpali. “Cuman Tiga Ratus ribu, raga ini diolah sampai fresh lagi, Man!”
– wiw – wiw – wiw –
Bel masuk kerja yang bak sirene telah berbunyi. Memungkas cerita Habil yang begitu menegangkan kami. Meski bahasan berbahaya memang menarik untuk diobrolkan, tapi tarikan bel masuk kerja itu lebih kuat menggiringkan kami. Sebab bisa bahaya sih jika kami sampai mengabaikannya.

Bergegas meninggalkan Kantin Liberal, kopi yang masih hangat itu pun berkelakar, mengiringi langkah-langkah kaki kami yang hendak memasuki gedung yang kaku itu. “Katanya merdeka? Tapi untuk sekadar ngobrol aja masih terbentur oleh waktu. Tak bebas, cenderung tertindas.”

Kerja hari ini tak ada lemburan. Order mulai sepi, tapi lelah masih terasa singgah. Aku baru kembali masuk kerja sepekan kemarin. Bayangkan saja, belum sembuh total, tapi aku dituntut bekerja seperti orang yang kesehatannya normal. Seharusnya ini dijadikan perkara serius. Hidup di dalam ideologi pancasila kok gak berprikemanusiaan. Eh, tapi memang sih, empunya pabrik ini kan asing, ya. Maka wajar kalau liberal, demi memenuhi hajat kapital. Eh, tapi kan pemegang kebijakan manajemen perusahaannya bangsa kita sendiri. Tapi kok tidak pancasilais. Apakah penanaman nilai-nilai pancasila belum benar-benar digerakkan secara komprehensif? Ah, lelah, sudahlah, yang aku butuhkan sekarang adalah penambahan stamina, juga penyegaran diri. Tak ada lemburan, artinya bisa pulang lebih awal dari biasanya. Tepat! Waktu memang harus dimanfaatkan.
Jelang waktu istirahat, ada masa rehat kurang lebih Lima menit. Aku menghampiri Habil yang sedang duduk berdua dengan Jan di kursi dekat tempat penyimpanan tas. Aku bertanya. “Bil, Kampung Kelalawar itu dimana? Saya butuh refreshing nih.”
Mereka berdua tergelak, aku pun spontan demikian. “Hahaha… mau apa Man?”
“Anu, kalau kata kamu tadi pagi sih mengolah raga kan, supaya bisa fresh.” kataku, polos.

Mereka berdua semakin terbahak. Mungkin kalau ada Teguh, bisa jadi Ia pun akan menertawaiku. Atau menamparku. Tapi Ia sedang ke toilet.

“Dam, jangan lah, kamu jangan sampai main ke Kampung Kelalawar, atau ke tempat kayak begituan. Saya paham maksud kamu. Tapi jangan lah, kamu jangan sampai gitu!” bijak Habil.

Aku melongo. Aku justru jadi merasa tidak paham. Aku merasa kurang puas. “Ya sudah, Jan, aku minta sabu-sabu aja deh. Lelah nih, butuh doping!” sambungku.
Seketika Jan menjawab. “Aduuuh, jangan-jangan-jangan! Kamu gak boleh lah coba-coba pakai itu.”
Aku jadi semakin bingung, mereka berdua kembali tergelak. Sambil tertawa-tawa, mereka berdua meninggalkanku untuk keluar gedung, untuk makan siang, untuk beristirahat. Teguh menegurku dari belakang. Lalu aku berjalan dengannya. Keluar gedung, untuk makan siang, untuk beristirahat. Dan juga, untuk memikirkan sebuah pertanyaan di sepanjang jalan menuju Kantin Liberal, “Mengapa Jan melarangku mengkonsumsi narkotika? Mengapa Habil melarangku menjumpai seks bebas? Mengapa, mengapa Jan dan Habil melakukan hal yang sebenarnya dilarang oleh diri mereka sendiri?”

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: